Mengenal Tradisi Mengikat Kaki ala Cina Kuno. Demi Kecantikan, Kakinya Dibuat Sangat Kecil

Mengenal Tradisi Mengikat Kaki ala Cina Kuno. Demi Kecantikan, Kakinya Dibuat Sangat Kecil

Persepsi orang tentang kecantikan selalu berubah dari masa ke masa. Zaman dulu, orang yang dianggap cantik adalah yang langsing, putih, dan rambutnya bergelombang. Mungkin seperti Marilyn Monroe. Tapi semakin terbuka pemikiran masyarakat modern, definisi cantik itu sendiri jadi tak terbatas. Semua perempuan cantik sesuai penampilannya masing-masing.

Nah, saat kecantikan hanya terbatas pada kriteria tertentu, beberapa abad lalu di Cina ada sebuah tradisi yang dilakukan terhadap para perempuan agar terlihat cantik. Bukan dengan polesan di wajah atau penataan rambut dengan gaya tertentu, namun justru dengan mengikat kaki supaya bentuknya jadi “indah”. Padahal sebetulnya, praktik tersebut membuat mereka tersiksa seumur hidup. Kondisi fisik mereka pun jadi terganggu sehingga sulit melakukan kegiatan sehari-hari. Tetapi, kenapa tradisi ini bisa berlangsung sampai lama sekali? Yuk, kita bahas bersama-sama.

Supaya terlihat cantik, perempuan di Cina rela mengikat kakinya supaya mengecil dan berbentuk seperti bunga lotus. Tradisi itu muncul berabad-abad lalu

Dilakukan sejak kecil via kienthuc.net.vn

Ada dugaan kalau praktik ini dimulai pada abad ke-10. Saat itu, Kaisar Li Yu menyuruh seorang budak perempuan untuk mengikat kakinya sendiri dengan pita sutra dan menari di antara bunga lotus (teratai). Penampilannya begitu disukai sehingga budak-budak yang lainnya memutuskan untuk mengikat kaki mereka juga. Kemudian tradisi ini menyebar ke seluruh penjuru Cina. Para perempuan mengikat kakinya hingga berukuran kurang dari 10 cm supaya dianggap cantik.

Proses yang sangat menyakitkan ini dimulai sejak masih kecil. Kaki anak-anak perempuan diikat kencang dengan perban sampai struktur tulangnya rusak

Jadi sekecil kaki anak-anak via www.theatlantic.com

Biasanya praktik ini dilakukan saat sang anak berusia 4 hingga 9 tahun. Kaki mereka diikat oleh ibu, nenek, atau perempuan lain yang lebih tua. Awalnya, kaki anak itu akan direndam dalam air hangat dan digosok supaya kulit matinya terangkat. Kukunya juga dipotong pendek. Setelah itu, tawas ditaburkan di antara jari kaki untuk mencegah keringat. Barulah kemudian kakinya diikat dengan perban yang basah. Ikatan akan semakin kencang setelah perbannya kering.

Proses ini sangat menyakitkan karena keempat jari kaki sang anak harus ditekuk ke arah telapak kakinya. Posisinya dipertahankan dengan ikatan perban yang kencang. Setiap beberapa hari sekali, perban itu dilepas dan kakinya dibersihkan, lalu dipasang perban yang baru. Ritual tersebut dilakukan berkali-kali seumur hidupnya. Lama-lama, struktur tulangnya rusak dan kakinya menjadi sangat kecil.

Dengan kaki yang mungil, para perempuan lebih mudah dinikahi oleh pria kaya. Ukuran kaki juga bisa menunjukkan status sosial mereka

Perempuan berstatus sosial tinggi via k.sina.cn

Kaki yang diikat membuat perempuan sulit berjalan dan beraktivitas. Karena itulah, hanya orang-orang kalangan atas yang bisa melakukannya karena mereka nggak perlu banyak bekerja. Sedangkan untuk kalangan bawah, mereka memilih nggak mengikat kaki supaya bisa bekerja di sawah dan ladang. Walaupun begitu, ada juga yang kakinya tetap diikat oleh orang tuanya dengan harapan bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Wajar saja, saat itu perempuan yang berkaki kecil memang dianggap lebih cantik dan menarik secara seksual. Maka mereka lebih mudah dinikahi oleh lelaki yang kaya. Apalagi kalau mereka mempunyai kaki berbentuk golden lotus yang panjangnya hanya sekitar 7,6 cm. Ada juga kaki silver lotus berukuran 10 cm yang cukup diminati. Sedangkan untuk kaki iron lotus yang panjangnya lebih dari 10 cm, pemiliknya dianggap nggak cukup menarik untuk dinikahi. Maka semakin kecil kakinya, semakin sejahtera pula hidupnya.

Advertisement

Di balik keuntungan tersebut, tradisi mengikat kaki bisa menyebabkan cedera parah di sekujur tubuh perempuan. Bahkan mereka bisa meninggal karenanya

Bisa menyebabkan cedera parah via historycollection.co

Kaki yang diikat kencang terus-menerus bisa menyebabkan lecet dan infeksi. Bahkan mereka juga bisa mengalami gangren atau matinya jaringan tubuh. Bahkan dalam sejumlah kasus yang ekstrem, jari kakinya sampai membusuk dan terlepas saat perbannya dibuka. Tetapi hal ini bisa dimaklumi karena berkurangnya jumlah jari akan membuat kaki semakin kecil.

Kaki mereka juga rentan mengalami kelumpuhan dan berkurangnya kekuatan otot. Akibatnya, mereka kesulitan berjalan sendiri dan harus dibantu orang lain atau memakai tongkat. Lemahnya kaki bagian bawah juga membuat mereka nggak bisa berjongkok. Pada wanita yang lanjut usia, kepadatan tulangnya menurun terutama di pinggul dan tulang bagian bawah sehingga meningkatkan risiko patah tulang.

Lalu, apa dampak yang paling ekstrem dari tradisi mengikat kaki? Para perempuan ini bisa mengalami septikemia atau keracunan darah akibat infeksi kronis. Kondisi tersebut bisa menyebabkan mereka meninggal dunia! Ngeri banget ya…

Syukurlah, tradisi mengikat kaki mulai dihentikan saat Cina dikuasai oleh Barat. Akhirnya praktik ini resmi dilarang pada 1950-an

Akhirnya resmi dilarang via www.smithsonianmag.com

Saat Dinasti Qing (tahun 1644 hingga 1912), Cina mulai dikuasai oleh Barat. Orang-orang Barat melihat tradisi mengikat kaki sebagai siksaan bagi perempuan. Pernyataan itu juga disetujui oleh sebagian orang Cina yang pernah mengenyam pendidikan di Barat. Akhirnya, tradisi mengikat kaki perlahan-lahan dihentikan. Pada 1950-an, tradisi ini resmi dilarang di seluruh Cina dan sampai sekarang dianggap sebagai hal yang mengerikan.

Namun, masih ada beberapa perempuan yang hidup dengan kaki berbentuk lotus pada 2008 hingga 2014. Mereka sudah berusia 70-an hingga 90-an tahun dan menderita akibat kondisi kakinya. Semoga mereka adalah korban terakhir dari tradisi mengerikan seperti ini, ya!

sepertikemarin.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *