Kisah 3 Mahasiswa Tingkat Akhir yang Skripsian & Sidang Akhir di Tengah Pandemi. Gimana Rasanya?

Kisah 3 Mahasiswa Tingkat Akhir yang Skripsian & Sidang Akhir di Tengah Pandemi. Gimana Rasanya?

Akibat jumlah kasus Covid-19 yang terus meningkat setiap harinya, pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan virus semakin meluas. Dalam kebijakan itu pemerintah menganjurkan masyarakat untuk melakukan aktivitas peribadahan, pekerjaan sampai proses pembelajaran di rumah.

Dampak dari itu semua salah satunya dirasakan oleh mahasiswa yang sedang berjuang mengerjakan skripsi. Dalam situasi normal, mereka diharuskan sering-sering ke kampus baik untuk konsultasi ke dosen pembimbing maupung sekadar cari referensi di perpustakaan. Namun kini, semua harus berubah. Terbatasnya mobilitas membuat proses mengerjakan skripsi atau tugas akhir harus menemui lika-liku yang nggak mudah. Tapi, apakah benar semua merasakan hal yang sama? Untuk membuktikannya, Hipwee sudah mewawancarai 3 mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan kewajibannya. Simak, yuk, curhatan mereka di bawah ini.

Kiky yang berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, mengaku semenjak pandemi corona, ia semakin malas mengerjakan skripsi karena nggak ada kejelasan informasi dari birokrasi kampus dan komunikasi dengan dosen yang lambat.

“Gimana ya, jadi makin males aja sih. Ya sebelum pandemi juga males, cuman sekarang makin males soalnya kayak nggak jelas gitu informasi dari  kampus, simpang siur. Ditambah lagi dosen pembimbingnya slow response. Jadinya skripsi stuck disitu-situ aja.”

Komunikasi yang nggak efektif dengan dosen pembimbingnya yang lambat merespon membuat Kiky frustasi. Kini ia sedang menunggu hasil dari revisian yang ia ajukan. Ia mengeluh soal lambatnya sang dosen membalas email sehingga ia terpaksa mengabaikan skripsinya beberapa waktu

“Yang berubah sih soal komunikasi. Masalahnya juga ya masalah komunikasi. Ya tahu lah sebelum corona aja dosen pembimbing urang susah ditemuin, apalagi kalau lewat email. Ini aja revisian masih belum dibales juga. Ya kepaksa dianggurin aja itu skripsi. Padahal udah masuk BAB 4.”

Advertisement

Berbeda dengan Kiky, menurut Ferdin, dengan adanya PSBB skripsinya jadi lebih cepat selesai. Hal itu dikarenakan ia punya banyak waktu luang dan nggak terlalu banyak distraksi. Ferdin jadi lebih sering riset untuk penelitiannya, mencari-cari teori dan mengerjakan revisi dari dosen pembimbingnya.

“Iya kalau buat urang sih PSBB ini menguntungkan banget ya. Apalagi buat mahasiswa tingkat akhir. Urang jadi lebih fokus karena punya banyak waktu luang di rumah. Hasilnya jadi riset-riset buat penelitian. Beda sama sebelum ada corona. Urang banyak kedistraksi, ya, contohnya kalau lagi nggak pandemi pengen nongkrong sama temen.”

Menurut Ferdin perbedaan skripsian sebelum dan setelah pandemi adalah masalah teknis aja. Sama seperti Kiky ia mengaku kurang nyaman kalau berkomunikasi dan membicarakan revisian via daring. Belum lagi masalah birokrasi kampus yang sering memberi informasi yang simpang siur. Kendati begitu ia mendukung keputusan kampusnya saat memberlakukan sidang akhir secara online.

“Iya kalau masalah sidang akhir, urang ngedukung banget. Ya sejauh ini aplikasi kayak zoom udah bisa memudahkan mahasiswa dan dosen untuk melakukan proses sidang. Apalagi kan aplikasi-aplikasi kayak gitu udah ada fitur share screen. Nah daripada nunggu virus yang entah kapan selesainya, lebih baik manfaatin teknologi buat sidang akhir. Itu keputusan yang tepat sih.”

Berbeda dengan Kiky dan Ferdin yang masih mengerjakan skripsi. Darto, mahasiswa Jurnalistik telah lulus dari kampusnya. Darto mengaku kalau dirinya adalah mahasiswa gelombang pertama yang lulus dengan sistem sidang akhir online.

“Ya saya sebenarnya ngerjain skripsi sebelum pandemi, tapi pas mau sidang akhir keburu ada corona. Untungya kampus bikin sistem sidang akhir secara online. Ya alhamdulillah ya bisa lulus. Ya lulus lewat jalur corona lah. Hahaha..”

Menurut pengalamannya, melakukan sidang secara online rasanya aneh dan banyak masalah teknis. Hal tersebut diakibatkan pengumuman sidang yang mendadak sehingga ia nggak bisa maksimal mempersiapkan diri. Darto menyebut kalau kampusnya memberi uang untuk membeli kuota, namun uang tersebut sebenarnya nggak cukup untuk melakukan video call selama 40 menit.

Selain masalah teknis, Darto mengaku canggung harus bicara sendiri di depan laptop dan dilihat oleh dosen-dosen. Apalagi ia sering mengulang-ngulang penjelasannya karena masalah koneksi internet. Namun setelah melewati seluruh proses tersebut Darto merasa lega setelah dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.

Berbeda dengan sidang konvensional yang harus bertatap muka, menurut Darto sidang online jauh lebih memudahkannya untuk lulus. Hal tersebut ia bandingkan dengan pengalamannya melaksanakan senimar ujian proposal sebelum pandemi corona.

“Ya perlu diakui ya, sidang secara online jadi lebih gampang dari pada sidang biasanya. Contohnya pas lagi senimar proposal itu lebih susah dan grogi karena ketemu dan tatap muka langsung sama penguji. Nah kalau secara online kan kaya ngobrol sama laptop jadi lebih rileks aja. Apalagi kan ada batas waktu menjelaskan dan menjawab pertanyaan.”

Meski begitu Darto mengaku sedikit sedih karena lulus di masa pandemik. Alasannya, ia nggak bisa merayakan kelulusannya bersama dengan teman-temannya. Menurutnya ia nggak merasakan euforia kelulusan seperti yang orang lain rasakan. Terlepas dari kesedihannya Darto mengaku ia bahagia karena bisa memenuhi tanggung jawabnya kepada orang tua.

Nah, itu dia kisah 3 mahasiswa yang ngerjain skripsi di masa pandemi virus corona. Ternyata nano-nano ya! Nah, untuk kalian yang juga sedang berjuang di “garis akhir” dan menemui kendala karena virus corona, ingat untuk tetap semangat! Buktikan bahwa wabah ini nggak bisa menghalangi kalian lulus dengan nilai memuaskan~



sepertikemarin.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *